LGpdNGR8MGVaMaNaMWVaMWR8yTUfATofA6QkyaV=

JUARA 2 LOMBA MENULIS CERPEN

BLANTERLANDINGv101
990125513733413425

JUARA 2 LOMBA MENULIS CERPEN

Thursday, June 9, 2022
Tema : ‘Semangat Juang R.A. Kartini Menginspirasi Generasi Muda Indonesia dalam Mengisi Pembangunan Bangsa’ 
Subtema: Sosial budaya 

Putra Ibu 

Kumandang adzan menandakan sore telah membujuk pulang. Gerakanku terjeda. Seragamku penuh keringat. Rambut lepek enggak tertolong, jadi tambah berantakan. Aku baru saja selesai latihan menari di sanggar Kencana Padu. Aku memang suka menari. Lebih-lebih tarian tradisional. Bukankah bagus kalau nanti tarian tradisional Indonesia dikenal bule-bule sana? Itu mimpi terbesarku. Mungkin kedengarannya aku menipu, karena mimpi yang sangat template. Untuk Indonesia. Semua sudah lelah pakai alasan itu. Ya, bagaimana? Aku memang sudah jatuh hati pada Ibu Pertiwi. 

Aku mencoba membersihkan kacamata kotak yang aku punya dengan selendang. Nah, sekarang enggak terlalu buram. Latihan tari selalu saja terasa sangat cepat. Padahal sanggar dekat sungai ini membuat betah berlama-lama dengan surai lembut anginnya. Oh! Jam dinding di sanggar pamer angka 4 nya. Harus cepat pulang atau dibogem Ibu. Aku segera merapikan selendang. Berjongkok mengemasi botol minum setelah memastikan masker yang kupakai enggak miring kanan kiri. 

"Naufal, turut berduka cita, ya." Larasati-sahabatku, cewek cantik yang punya rambut sebahu itu datang dan menepuk bahu. Menguatkan. 

 "Kenapa? Siapa yang meninggal?" aku bertanya gelagapan, panik enggak karuan mencari ponsel di luas ruang latihan. Ditambah kacamata yang kembali buram karena udara yang keluar lewat celah masker membuat suasana menjadi tambah menyediakan. Seperti sinetron-sinetron klise di televisi lokal. 
 
Siapa tahu ada yang mengabari lewat ponsel, pikirku. Tapi aku langsung berhenti panik kesetanan setelah melihat Sati mengusap pipinya yang kering kerontang. Dia enggak menangis, tapi malah tersipu menahan tawa. 

"Enggak usah gimmick lagi deh, Sati. Panik tau." Aku langsung berdiri membawa tas, meninggalkan dia yang masih main drama nangis-nangisannya. Bisa terlambat pulang kalau aku ikut dramanya si Sati. Aku akan disabet Ibu pakai gagang sapu karna kelamaan main di sanggar. 

"Loh, bentar dulu. Nggak mau tahu, siapa yang meninggal?" tanyanya. 

"Enggak. Males. Mau pulang. Dah" Aku melambai. Memamerkan punggung tanganku. 

"Haduh. Ya sudah. Padahal aku mau kasih tahu kalau biaya bulanan sanggar mu dimatikan." Kalimatnya dengan segera membuatku berbalik arah. Sati pamer amplop coklat di tangannya. Dia menggodaku dengan itu. Lalu langsung dimasukkan ke saku tas ransel yang dia bawa. Dia baru pulang les. Tasnya masih dibawa-bawa saja. 

"Ha?" Alisku bertaut. Dahiku keriput. Ini yang halu, aku, atau Sati sih. 

"Sana! Cepat pulang. Nanti dicariin ibumu." Dia mengibaskan tangan kanannya agresif. Iya sih dia anak semata wayang pemilik sanggar. Tapi berhak apa dia sampai mengusir murid ayahnya. 

"Sati, ini beneran? Mana, coba lihat" Aku segera menghampiri dia yang masih duduk di tempat. Tanganku mengadah. Sati mendongak, wajahnya yang menjengkelkan dengan cepat menunjukkan ekspresi 'katanya enggak mau tahu.' 

"Fal, aku ramal ibumu sudah pegang sapu di depan pintu. Kamu cepat pulang deh, daripada besok nggak bisa latihan nari karena bonyok." Dia tersenyum, tambah manis dengan lesung pipi kiri. Tapi bagiku sungguh petaka. Itu hal yang paling horor dari Sati. Sati cukup cekatan melarikan diri dan cekikikan disepanjang jalan dia keluar karena aku enggak berhasil ambil amplop dari dia. 

Dasar, Larasati. Bukannya lebih bagus dikatakan besok kalau dia cuma menggodaku? Dia membuatku salah belok arah 2 kali karna kepikiran biaya sanggarku yang digratiskan itu betulan atau enggak. Bagus kalau aku naik motor, itu bisa lebih membantu. Tapi aku pakai sepeda butut yang waktu dikayuh malah ada bunyi melengking karena oli yang kering. 

Ramalan Sati salah. Ibu enggak membawa sapu dan berdiri di depan pintu. Tapi, Ibu sedang duduk manis di ruang tamu. Memegang rapot sembari melotot pada nilai-nilaiku. Itu rapot yang sudah dua hari aku sembunyikan. Sungguh, ini lebih seram. Padahal aku berniat memberitahu Ibu saat aku lebih siap dengan omelannya. Tapi kenapa bisa ditemukan lebih dulu. Sepertinya ibu-ibu di seluruh dunia punya indra ke enam. Barang sekecil semut di tumpukan jerami pun bisa ketemu. Apalagi rapot yang cuma kusembunyikan di bawah tumpukan seragam. 

"Dari sanggar baru pulang? Duduk!" suruhnya. 

"Kamu tetap nekat dengan kemampuan mu itu? Kamu sadar dong, sudah kelas 12. Sudah turun banyak peringkat tapi tetap tari yang dinomor satukan," teriak Ibu. Suaranya tinggi dan menekan pada kalimat 'tari' yang dia ucapkan.

Beliau menyuruh duduk, tapi enggak memberi waktu buat pantatku menempel di kursi. Ibu langsung melempar rapot. Mengenai kakiku. Aku membuang muka. Melihat nilai yang aku usahakan sendiri dilempar begitu saja membuat dada agak sesak. 

Beliau meneruskan, "Kalau kamu menekuni kemampuan menarimu, mau jadi apa nanti? Laki-laki kok menari. Ibu sudah lelah dengar gunjingan tetangga. Sudahlah, Naufal, fokus pada sekolahmu saja. Jangan noleh kemana-mana. Perlu dibelikan kacamata kuda?" 

Aku sudah mau terbahak waktu Ibu menawari kacamata kuda. Langsung menunduk atau beneran disabet sapu. Hanya dua pilihan itu yang ada di depan mataku. 

Kalau aku bilang ke Ibu biaya sanggar digratiskan, apa aku lebih direstui menari? Sepertinya enggak. Ibu enggak mempermasalahkan itu karena aku yang cari uang untuk biaya sanggarku. Ibu ogah-ogahan kalau harus nombok uang setiap bulan buat kegiatan yang katanya cuma dilakukan cewek. Ibu sangat memperhatikan persepsi orang lain kepada keluarganya. Beliau lelah mendengar olokan ibu-ibu di tukang sayur karna putranya suka menari. Toh uang sanggarku digratiskan atau enggak pun masih menjadi berita abu-abu. 

Diam dan enggak menjawab adalah pilihanku. Embusan napas membantu sedikit untuk meredam kelakuan buruk yang mungkin akan aku lakukan. Aku langsung mengambil rapor yang tersungkur malang di kaki, segera meninggalkan ruang tamu. Langkah yang cukup cepat dan urakan membuat Ibu langsung berkomentar "Harusnya yang paling kesal itu Ibu!" 

Harusnya yang paling kesal itu ibu? Memangnya saat mimpiku enggak boleh kuperjuangkan dan aku diminta menyerah buat apa yang aku inginkan, aku enggak boleh kesal? Kenapa? Bukankah yang harusnya sangat kesal itu aku? Aku meremas baju kuat. Menghentak di setiap langkah. Apa menari cuma untuk cewek? Mereka enggak pernah nonton YouTube apa bagaimana sih. Bisa-bisanya mereka bilang tarian boleh dilakukan cewek-cewek gemulai saja. 

Lagipula aku belajar tarian tradisional. Orang macam apa yang enggak senang kalau budayanya hendak dilestarikan. Aku mulai mempertanyakan status kewarganegaraan di KTP mereka. 

Karena cepat-cepat dengan kaki yang kuangkat seadanya, aku jadi gampang tersandung anak tangga. Untung kamarku tepat setelah undakan terakhir. Enggak harus ada adegan tersungkur dengan rapot yang berantakan. Terpeleset karena langkah urakanku yang semakin lama sampai. 

Langsung masuk kamar, tapi aku enggak langsung menutup pintu. Kupegang gagang dari dalam kamar dengan pintu yang masih terbuka. Tanganku gemetar. Menahan diri supaya enggak banting pintu. Itu sulit sampai membuatku menangis. Cukup lama sampai ternyata aku menangis bukan karena gemetaran menahan untuk enggak banting pintu. 

Masker yang aku pakai langsung aku lepas. Menjijikkan karena basah kena ingus. Kalau sekarang ada yang bilang laki-laki enggak boleh menangis, aku malah akan merengek di depan mukanya. Akan kulihatkan kalau yang bisa merasakan emosi bukan cuma perempuan. Dikira laki-laki batu? 

Aku enggak mempersiapkan diri waktu bapak tiba-tiba muncul di depanku, menahan pintu yang mau tertutup. Bapak melihat aku menangis dengan ingus yang kemana-mana. Memalukan. 

"Bapak tadi dengar?" aku bertanya sambil menyedot ingus. Sesenggukan.

"Iya. Masuk dulu, Le. Bapak mau bicara sama kamu." Bapak masuk. Menutup pintu lalu mendahului duduk di kasur. 

Aku duduk di kiri bapak. Melepas kacamata kotak yang gagangnya hitam, lalu mengusap wajah agak kasar, menyeka air mata. Menghilangkan ingus dengan kerah baju. Dari tadi perkara ingus ini enggak selesai-selesai. 

"Kamu lebih suka nari atau belajar?" Bapak sudah tahu jawabannya. Tapi tetap ditanyakan pula. 

"Bapak tahu jawabannya." "Kalau gitu enggak usah belajar di sekolah lagi," ujar Bapak. Ini sebenarnya bapak marah atau enggak. 

Kalau dilihat dari ekspresi bapak yang senyum-senyum dengan kumis lelenya itu, Bapak enggak kelihatan marah. Tapi pertanyaannya kenapa begini sekali. 

"Kamu fokus saja sama latihan narimu kui, Le. Bapak malah kepengen kalau kamu bisa jadi penari terkenal. Apalagi bisa mengenalkan tarian tradisional ke luar negeri. Muantep pol itu, Le" ungkap Bapak. Dua jempolnya terangkat. Suasana hening. Aku juga mau. Tapi Ibu enggak suka. 

Aku enggak mau memaksakan kehendak dan jadi egois. Karena nanti Ibu juga pasti akan kurepotkan perihal apapun kalau aku jadi penari. Tambah lagi pandangan orang lain. Masa aku harus putus sekolah? Aku juga tetap mau cari ilmu. 

"Pak, kata Sati uang bulanan sanggarku digratiskan," aku membelokkan pembicaraan. Mata Bapak berbinar-binar. Kumis lelenya terangkat, Bapak tersenyum lebar.

"Wah bagus itu. Kamu jadi enggak sekolah sambil nyambi kerja di warungnya Bu Mumun." Bapak menurunkan senyumannya. 

"Sebenarnya Bapak enggak tega kalau kamu harus cari uang sendiri. Tapi kamu maksa buat ikut sanggar yang harganya lumayan. Ditambah uang bayaran bapak yang pas banget. Maaf ya, Le. Bapak belum bisa kasih banyak buat kamu. Kamu jadi harus kerja keras buat mimpi kamu sendiri. Padahal masih punya Bapak dan Ibu" ungkap Bapak. Wajahnya memelas. Suaranya melirih. 

"Semua yang aku lakuin sudah aku pikirin, Pak. Ini bukan salah Bapak. Aku sendiri yang mau ikut sanggar. Jadi Bapak enggak usah merasa bersalah. Aku malah berterima kasih banget karena jadi pendudukung setia mimpi Naufal."

Ingusku keluar lagi. Mata sudah enggak berkaca, tapi banjir dimana-mana. Pundakku naik turun sesenggukan. Bapak menepuk punggung. Mengelus lembut. Tangannya agak bergetar. Berusaha menahan tangis di depan anaknya. "Semoga usahamu tidak sia-sia ya, Le. 

Semoga Tuhan selalu menjaga kamu. Maafkan juga Ibumu. Dia sayang, sebenarnya. Tapi takut kalau putra satu-satunya ini terbebani anggapan orang-orang di luar sana," ujar bapak lirih. Aku tahu itu. 

Aku mencoba tersenyum dengan mata belekan yang mengerikan. Bapak pamit keluar sambil menepuk pipiku. Aku mengangguk. Menerima semangat. 

Pintu kembali tertutup. Suasana berubah. Aku merebahkan punggung pada kasur. Tetap dengan baju seragam yang kucel karena keringat sisa latihan tari. Cuma suara tokek yang jadi teman melamun. Merem melek tapi enggak bikin cepat tertidur. Ternyata begini rasanya jadi orang mumet. Tidur pun susah.

Apa baiknya aku nurut sama Ibu, ya? Ibu pasti mau aku sukses. Tapi bukan dengan menari. Pun aku bisa lebih fokus pada sekolah. Kalau enggak bisa keterima di perguruan tinggi favorit, Bapak sama Ibu pasti kecewa. Tapi nanti aku ambil jurusan apa? Aku cuma bisa nari. 

Dentingan jam menggantikan suara tokek. Selimut yang membungkus tiba-tiba terasa hangat. Angin sore sepoi-sepoi menerpa lembut. Membawa diri ke bunga tidur. Aku enggak pernah tahu ternyata tidur bisa senyaman ini setelah lebih dari 40 menit ngelamun sok stres. 

Suara ayam tetangga sudah jadi alarm alam. Selalu tepat pukul 5, Tika berkokok. Ya, aku memberi dia nama. Sebagai penghargaan karena jasanya yang terus berkokok dan jadi alarm setiaku. Pertama kali buka mata sudah ada yang bikin kesal. Kemarin aku lupa cuci baju seragam. Malah kupakai tidur. Biasanya selalu aku cuci supaya besok waktu dipakai enggak bau. Berakhirlah aku pakai seragam sekolah yang dulu. Kekecilan. Tapi daripada pakai seragam yang bau dan kucel. 

Aku turun ke bawah. Membawa rapot. Akhirnya aku berani minta tanda tangan. Yah, walaupun harus ada adegan lempar-lemparan raport dulu. 

Bapak duduk di depan televisi. Menonton kartun yang isinya spons kuning bopeng-bopeng. Aku memilih duduk di meja makan. Ambil roti selai dan jus jambu. Biasanya rumah ramai karena setiap pagi Bapak selalu diteriaki Ibu. Selalu saja ada yang enggak benar. Kali ini sepi, Ibu sedang cuci baju di belakang. Cuma kedengeran suara televisi sama burung kenari Bapak. 

"Bapak," aku memanggil. Melipat roti yang sudah dioles selai kacang. 

Bapak menoleh. Menunggu aku bicara. 

"Soal yang kemarin. Aku tetap mau belajar, Pak" seruku. 

 "Kamu masih bisa sekolah sambil nyambi nari? Kamu yakin enggak kewalahan, Le? Apalagi akhir-akhir ini ada banyak tawaran lomba," tanya bapak. "Aku kan enggak bilang tetap mau nari, Pak. 

Aku mau fokus sama sekolah saja.

" Bapak diam. Wajahnya enggak berekspresi. Jawabannya cuma anggukan singkat. Aku enggak tahu apa yang dipikirkan Bapak. Sepertinya Bapak kecewa. Putranya sangat mudah menyerah. Belum berjuang saja sudah balik kanan, bubar jalan. 

Mana bisa tahan dengan rasa kecewa Bapak. Aku langsung pamit. Cepat-cepat meninggalkan rumah supaya enggak lihat wajah Bapak. Nanti aku goyah. Padahal sudah aku bulatkan tekadku. Aku menaruh rapot di meja depan Bapak. Cuma aku titip untuk ditandatangani. Lalu langsung aku tinggal. 

Sekolah ada pada list paling atas tempat yang aku benci sebelum kompleks rumah. Banyak yang sok tahu. Mereka mendekat kalau ada maunya. Giliran ada berita miring yang kebenarannya belum terbukti, matanya melirik sampai muter ke belakang kalau subjek gosip lewat. Juga banyak pembullyan yang dilakukan cuma untuk senang-senang. Memang rusak semua mental anak sekolah SMA 2 ini. Enggak ada yang waras. Termasuk aku. Aku yang sering jadi badut sekolah juga masuk list salah satu orang enggak waras. 

Seperti yang bisa dilihat. Jobdesk pagi ini adalah jadi bahan olokan Andre dan antek-anteknya. Bocah cakung sok keren, padahal mirip berandalan yang suka maling ayam tetangga. Mereka datang ke meja. Perhatian sekali bukan haha. Andre menawarkan telepon yang isinya ada mukaku. Disitu aku sedang menari. Jejer Jaran Dawuk, tarian Banyuwangi. 

"Lihat, tuh! Lemes banget badanmu. Mirip cabe-cabean dekat perempatan hahaha," ejeknya dengan tertawa keras. Apaan. Gerakannya tegas kok. Dia buta, ya? 

Teman-teman sekelas yang awalnya memang memperhatikan, jadi tambah pasang kuping. Ada yang merekam. Bukan untuk bahan bukti. Tapi bahan ejekan nanti. 

Bola mata kuputar malas. Lalu menyandarkan punggung ke kursi. Tulang-tulangku harus rileks supaya enggak gampang menghajar orang di depanku ini. 

Temannya mencemooh, "Bajunya seksi banget. Ketat banget nih, Ndre. Ngalahin tante-tante girang." 

Aku merenggangkan rahang kanan kiri. Napasku berat. Dada naik turun. Tiba-tiba mataku menangkap 

Sati yang berdiri di ambang pintu sambil memegang buku. Dia kaku. Wajahnya datar tapi merah padam. Kalau bisa dilihat, sudah pasti ada uap keluar dari hidung dan telinganya. Celaka. Rekor terakhirnya masuk BK karena mendaratkan mangkuk bakso ke wajah Andre. Dia bilang Andre melempar kecoa dan enggak sengaja masuk ke baju. Rival besar Sati adalah Andre Bekti Hartono. Bisa dilihat kesalnya dia karena sahabat satu-satunya dicemooh. Sati berjalan santai menghampiri. Semua anak terlihat menunggu apa yang akan terjadi. Berdoa guru tidak masuk supaya episode kali ini enggak bersambung. Aku langsung berdiri, berjaga-jaga. Andre tersenyum miring dan menyambut Sati. Wajahnya beneran enggak tampan waktu tersenyum. "Wah. Pahlawannya bencong datang nih. Mau apa lagi, Laras? Mau lempar mangkuk bakso? Apa mau nonjok mukaku? Ayo sini. Sini!" Andre mendekat dengan menunjuk pipinya. Memberi ruang kalau Sati ingin main tinju-tinjuan. 

"Dasar Hartono jelek!" olok Sati. Matanya melotot. Hampir lepas dari tempatnya. 

Andre juga sama. Rahangnya mengeras. Matanya enggak kalah melotot. Sekarang tinggal menunggu, mata siapa yang jatuh duluan. Andre sangat menghindari sebutan Hartono pada dirinya sendiri. Dia enggak mau dipanggil Hartono. Apalagi Tono. 

"Kenapa? Enggak terima dipanggil Hartono yang jelas-jelas namamu? Enggak keren? Hah?" Sati menyebutkan banyak pertanyaan dengan keras yang enggak perlu dijawab. Dia membentak. 

Buku yang dia bawa enggak terlalu tebal. Masih bisa digulung. Dia pakai untuk menunjuk keras dada Andre. 

"Apalagi Naufal yang dipanggil bencong. Dia pasti enggak suka. Dasar jamet!" Sati berteriak. Dia memukuli dada Andre dengan gulungan buku yang dia pegang. Mengintimidasi mata yang dia lihat. 

 Andre mengepalkan tangan keras. Bersungut-sungut. Kemudian tersenyum. Wajahnya kembali santai. "Kan memang benar. Dia itu bencong. Siapa tahu sudah jadi simpanan tante-tante. Coba pikir, bayaran kerjanya dari warung apa cukup untuk biaya sanggar. Udah miskin, ngeyel lagi." Dia tertawa keras. Diikuti anak-anak yang sedang menonton. Aku tetap diam. Berdiri di samping Sati. Wajahku datar.

Aku enggak tahu harus berekspresi seperti apa karena terlalu muak. 

"Eh, bukan tante-tante deng. Tapi om-om kaya raya hahaha. Lihat badannya yang gemulai itu. Pasti om-om gula juga mau," tambah Andre. Sati melirik ke arahku. Alisnya jadi satu. Marah karena aku cuma diam. Lalu dia menyeret kursi, menyilakan Andre duduk. Dia menawarkan dengan sangat sopan. 

Sati tersenyum. Sangat anggun dan manis karena lesung pipinya. Oke, ini harus segera dihentikan. Aku menarik tangan Sati yang masih memegang sandaran kursi kayu. Dia malah menoleh dan memberi senyum yang sama. Oh Tuhan! Aku merinding. 

"Apa, nih? Jangan sok baik ya, Setan. Kenapa tiba-tiba?" tanya Andre. Suaranya melengking. Matanya memicing curiga. 

"Kan lebih bagus kalau ada masalah itu diobrolin baik-baik. Duduk, supaya enggak gampang emosi." Wajah Sati yang enggak menunjukkan ekspresi kesal dan marah membuat Andre terbodohi. Senyum Sati itu sebenarnya sangat menakutkan. 

Andre dengan bangga mendekat. Mengira mangsanya bodoh karena terlalu cepat menyerah untuk enggak adu jotos. Sati tersenyum lebih lebar. Korbannya sudah masuk perangkap. 

"Sati ...." panggilku lirih. Sati sama sekali engga menoleh.Tanganku tetap memegang lengannya, berjaga-jaga. 

Tepat saat Andre ingin mendudukkan pantatnya, Sati langsung menarik kursi. Akibatnya Andre jatuh kayak orang bodoh. Enggak cuma berhenti sampai situ. Sati dengan cepat mengangkat kursi yang dia tarik. Dia mengincar Andre. Tepatnya, kepala Andre. Sebelum kursi itu jatuh ke korban, aku langsung menarik lengan Sati yang daritadi kupegangi. Demi Tuhan, Sati sudah gila. Kalau aku terlambat menarik lengannya, sudah jadi apa nanti si Andre. 

Untung kursi kayu yang dia lempar meleset ke belakang Andre. Semua orang tegang. Mereka membuka mulut, terkejut. Antek-antek Andre langsung membantu bosnya berdiri. Andre sendiri kaget. Tubuhnya kaku. Otaknya berhenti sekian detik. 

"Laras!" bentakku. Sungguh demi apapun, yang tadi sangat seram. Tubuhku bergetar. Tangaku masih terus memegang lengannya. Kali ini sangat erat. Wajahnya datar. Enggan ada senyuman yang manis lagi. Sati menatap ke depan, ke arah Andre. 

Aku langsung menarik Sati. Membawa dia keluar dari kumpulan manusia yang masih membeku. Berusaha menerima apa yang barusan mereka lihat. 

"Laras! Udah gila ya? Kalau tadi kena, Andre bisa mati! Sadar enggak, sih?" Aku membentak. Melepas kacamata lalu memijat pelipis gusar. Yang Sati angkat itu kursi kayu. Kalau Andre kena, apalagi langsung ke kepalanya, aku enggak bisa membayangkan Sati pakai baju tahanan. 

Sati cuma membuang napas santai. Wajahnya biasa-biasa saja. Itu membuatku marah. "Kamu kok bisa sesantai ini sih, Laras? Taruhannya nyawa orang!" teriakku. 

 Mata Sati melotot. Dia mendekat "Aku itu bantuin kamu. Harusnya kamu berterima kasih, dong. Bukan malah teriak-teriak marah ke aku." Suaranya tinggi. 

"Aku enggak butuh bantuan kamu, Sati. Padahal aku sudah berusaha enggak marah. Supaya enggak kena masalah. Tapi kamu malah datang dan tiba-tiba mau bunuh anak orang. Lagipula aku udah buat keputusan kalau aku enggak akan menari. Aku sudah memikirkan matang-matang," tegasku. Suaraku berat. Ingin teriak tapi masih kutahan. 

Wajah Sati kembali datar. Dia cuma diam. Matanya menunjukkan sorot kecewa. Sati langsung melempar buku yang tadi dia gulung. Ternyata dari tadi tetap dia pegang. Lalu Sati langsung pergi. Kakinya melangkah cepat. Tidak mau lama-lama di depanku. 

Aku melirik ke bawah. Mengambil buku yang Sati lempar begitu saja. Dia membawakan buku yang berjudul Raden Ajeng Kartini karya B.A Saleh. Pahlawan hebat wanita Indonesia yang hampir semua tahu kisahnya. Di dalam buku ada amplop coklat. Isinya informasi terkait biaya sanggarku. Aku tahu dia enggak bohong soal ini. 

Sepertinya dia bawa buku ini untuk memberi sedikit motivasi. Tapi pilihanku sudah bulat. Aku enggak butuh motivasi apapun. Besok akan kukembalikan. Sekalian pamit mau meninggalkan sanggar ke Pak Yanto. 

"Laras sedang ke pasar sama Ibunya, Fal. Sini, duduk dulu. Sebentar lagi pasti pulang," tutur Pak Yanto. Dia bapaknya Sati. Sekaligus pemilik sanggar tari tempat aku berlatih. Pak Yanto menyuruh duduk. Beliau menepuk undakan tangga di beranda rumah yang tinggi. Disamakan dengan desain sanggar yang menjadi satu tempat. 

Hari ini hari Minggu. Pak Yanto enggak ada jadwal untuk megajar tari, membuat pakaian yang dia gunakan juga ikut santai. Cuma kutang dan sarung. Duduk dengan mengajak ngobrol burung peliharaan kesayangannya. 

Suasana yang tenang ditambah angin semilir membuatku berat untuk berpamitan. Butuh 15 menit untuk memulai bicara. 

"Pak, saya mau pamit. Keluar dari sanggar." Akhirnya kata-kataku keluar. 

Pak Yanto menoleh kaget. Siulannya berhenti. "Loh, kenapa, Fal? Kemampuan kamu bagus banget. Enggak sayang kalau dilewatkan begitu saja?" 

Aku cuma tersenyum. Enggak tahu harus menjawab bagaimana. Aku cuma bermain-main dengan buku Sati yang mau aku kembalikan. Menggulung, lalu kulepas. 

 "Kamu punya buku itu juga?" tanya Pak Yanto penasaran. 

"Oh. Ini dari Sati, Pak. Kemarin dia pinjamkan," aku menjawab malu-malu. Ini pasti buku Pak Yanto yang Sati pinjam. 

Pak Yanto mengangguk. "Pasti kamu belum baca." 

Kepalaku menoleh. Pak Yanto kok tahu? Jangan-jangan Pak Yanto pakai dukun. 

"Coba dibaca dulu. Ya walaupun kamu tahu cerita Ibu Kartini itu bagaimana. Tapi disitu diceritakan lebih jelas. Bapak mau ngurusin burung ini ke belakang dulu, ya, Fal. Sebentar lagi Laras kayaknya pulang." Pak Yanto berdiri sambil membawa sangkar burung peliharaannya. 

Yah, enggak apa-apa lah. Enggak ada salahnya baca sebentar sambil nunggu Sati pulang. Pertamanya, aku mengamati sampul buku yang terpampang foto Ibu Kartini dengan suami dan juga adik-adiknya. Tapi tiba-tiba aku kok sampai halaman terakhir versi bahasa Indonesia. Buku ini memang punya dua versi bahasa. Inggris dan Indonesia. 

 Aku membolak-balik halaman buku. Pikiranku keluar kemana-mana. Kisah kita hampir mirip. Terkurung budaya dan pandangan masyarakat. Harus patuh pada apa yang sebenarnya enggak kami suka. Dipaksa diam dan berjalan tanpa kemauan. 

 Tapi bedanya, Ibu Kartini enggak langsung menyerah. Aku … aku belum berjuang tapi malah langsung mundur. Beliau tetap memaksa mendobrak peraturan. Menggeser pandangan orang agar beliau bisa berdiri tegak dengan mimpi-mimpinya. Aku cuma bocah ingusan yang menyia-nyiakan kesempatan. Bocah culun yang takut dikucilkan. Apa aku enggak bisa seperti beliau? 

Apa selamanya aku cuma akan menjadi burung dalam sangkar emas? Setelah membaca buku ini, hatiku goyah. Pikiranku saling beradu di dalam sana. Saling meneriaki, pilihan mana yang lebih baik. Aku meluruskan kaki yang kesemutan karena lama membaca dengan posisi yang sama. 

"Nak Naufal, sudah lama? Masuk dulu yuk. Ibu sama Laras baru dari pasar, Le," sapa ibu Sati. 

 Mereka mengagetkanku yang sedang bergaduh dengan pikiran sendiri. Dan aku langsung berdiri. Menolak tawaran Ibu untuk masuk dengan alasan mencari angin segar. Sati diam. Mendongak ke undakan atas, menatapku. Dia kembali setelah meletakkan belanjaan yang dia bawa. Lalu duduk satu undakan lebih atas dariku.

 "Aku mau mengembalikan ini." Aku menyodorkan buku yang sebelumnya kubaca. Dia langsung menerima dan hanya melirik. 

 "Nanti kalau ada informasi beasiswa juruan tari, tolong beritahu aku ya, Sati.

" Sati langsung memandangku. Mulutnya terbuka sedikit. Matanya melotot, dan alisnya terangkat. "Hah? Beneran? Kamu berubah pikiran? Beneran ini, Fal?" Dia memberi rentetan pertanyaan. 

Aku melihatnya. Tersenyum, kemudian mengangguk. Aku menambahkan "Karena baca buku dari kamu, pikiranku keluar. Enggak terkurung hal-hal yang aku takutkan lagi. Aku ini putra Ibu Pertiwi. Putra yang berbakti, yang pandai menari dan ingin mengenalkan tarian kita ke mata dunia. Masa aku berhenti gitu aja. Keberuntungan lahir di tanah ini menjadi anugerah yang besar buatku. Aku ini bumiputra yang terkasihi. " Sangat melankolis. 

Aku membusungkan dada. Berbangga diri. Aku enggak perduli dengan omongan orang. Mereka mengolok-olokku banci pun akan aku terima senang hati. Mereka tidak akan tahu sebesar apa mimpiku untuk dunia ini. Sebesar apa hidupku tertanam rasa cinta pada Ibu Pertiwi. 

Semenjak itu, hidupku hanya penuh dengan tekad. Aku tetap mengejar nilai yang baik untuk mendaftar beasiswa. Saat aku bicara pada Ibu dan Bapak, mereka menunjukkan dua respon yang berbeda. Bapak tertawa girang dan langsung memelukku. Ibu hanya diam. Enggak mengomel dan enggak juga menerima lapang dada. Tenang saja, Bu. Putramu akan membuat Ibu bangga. Aku enggak akan merepotkan Ibu. Enggak akan ada lagi olokan tetangga. Hanya akan ada tepukan bangga orang-orang. 

Aku sangat bersyukur pada Tuhan. Kesempatan memang enggak datang secepat itu. Tapi lambat laun Tuhan mengirimkan apa yang menjadi jawaban doaku. Aku diterima di perguruan tinggi yang lumayan favorit. Dan juga beasiswa full untuk jenjang S1. 

Karena enggak enak hati kalau biaya sanggarku digratiskan oleh Pak Yanto, aku tetap berusaha membayar biaya bulanan. Aku enggak lagi bekerja di warung Bu Mumun. Aku mengambil part time di cafe-cafe. Cukup untuk menambah uang saku dan membayar uang sanggar. 

Sampai tiba-tiba Sati menawari satu project yang katanya besar. Dia mengajakku bertemu kenalannya. Salah satu penyelenggara sendratari. Sati memperlihatkan video saat aku latihan menari. Mereka terlihat sangat tertarik. Lalu aku ditawari menjadi penari utama dalam sendratari besar yang akan dilakukan di pelataran candi Prambanan. Sendratari Ramayana. Pagelaran besar ini akan dihadiri tamu-tamu penting dari luar negeri. Tentu aku enggak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mimpi yang aku dambakan pelan-pelan aku capai. 

 Acara ini membuatku harus berjauhan dengan keluarga karena latihan yang harus dilakukan di Yogyakarta. Setiap hari semangatku membara. Senang dan takut tercampur aduk karena ini pertama kali aku menjadi penari utama. 

Tibalah hari yang paling aku tunggu. Hari pertunjukan sendratari. Suasana sangat kacau. Semua berlarian. Sebentar lagi acara dimulai. Aku sudah siap dengan semua properti yang dibutuhkan. Angin malam yang tipis membuat badan kaku. Dari tadi aku enggak memegang ponsel karena repot sendiri. Dimana benda itu sekarang? Aku menggeledah tasku di ruang tunggu. Dan akhirnya benda gepeng itu ketemu di paling bawah. Terselip antara baju ganti. 

Apa ini? Alisku bertaut saat melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Bapak dan Sati. Mereka pasti mau menyemangati. Tapi kenapa banyak sekali telepon yang masuk. Kan bisa lewat pesan. Aku mencoba menghubungi Bapak. Enggak dijawab. Lalu aku coba menghubungi Sati. Tersambung. 

"Halo, Sati?" Aku memulai 

"Fal ...." Sati diam cukup lama "turut berduka cita." Dia meneruskan. 

Apalagi ini. Apa ini ucapan selamat dari dia? Tapi kenapa telingaku mendengar suara pengajian di dekat Sati? Mataku memicing. Memastikan suaranya. 

 "Sati, jangan bercanda, ya! Itu kenapa sok-sokan nyalain pengajian di YouTube?" Aku mencoba mengelak pikiran-pikiran yang ada. Tapi Sati diam saja. Dia enggak menjawab. Sati malah menangis. 

"Ibu ... Ibu kamu, enggak ada, Fal" tuturnya. 

Napasku tertahan. "Sati. Ini bukan waktunya bercanda, ya!" Aku menggertak. Sati tetap menangis. Sekarang malah tambah kencang. Sati, dia berkata jujur. Dadaku bergemuruh. Hatiku hancur. Badanku enggak mau bergerak. Rasanya sangat sesak. 

 Panggung sudah dibuka. Kini waktunya menghibur banyak mata. Baru satu langkah menapak. Aku menginjak lantai panggung gemetar. Berdiri di tengah-tengah dengan resah. Gerakan mendakku kaku. Tanganku terangkat lesu. Bibir pun ikut pilu. Mata sayu. 

Tepuk tangan menggelora. Gamelan ditabuh ria. Berisik haru menjadi satu. Sinta mengadu. Rama memangku. 

 Aku menari ditemani tangisan. Sudah sulit ditahan. Mengangkat tangan, menoleh kepala. Kutarik selendang. 

Gerakanku tegas dan pasti. Menyesal sudah basi. Pundakku gemetar ikut menangis. Mimpi sudah diraih. Kini tinggal sedih. Hanya putra durhaka seorang diri. Ibuku telah pergi. 


 ZIA AMIRA NASHWA SALSABILA kelas X IPS 1 
Juara 2 menulis CERPEN pada peringatan Hari Kartini 2022 MAN 1 Blitar
BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang